Home / Headline / Sepotong Ode dari Seorang Perawat RS Panti Rapih Jogja buat Gus Dur
Merenda Istimewanya Jogja
Ketokohan Gus Dur diakui dunia dan meninggalkan jejak-jejak indah di dalam hati banyak orang (Karikatur: Santri Gus Dur)

Sepotong Ode dari Seorang Perawat RS Panti Rapih Jogja buat Gus Dur

Oleh: Katharina Indah Aryanti, Amd.Kep. & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.*

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Ditoreh dengan tinta emas sejarah adalah Raja Salomo yang tekenal tampan, kaya dan bijaksana. Tak terhitung cerdik pandai dan berbagai orang dari penjuru negeri berdatangan untuk meminta pandangan dan nasehatnya.

Seperti pagi itu, pengwal istana membaa ke hadapannya yang duduk di singgasana, dua orang ibu yang berebut bayi. Masing-masing bersumpah bahwa dia yang melahirkan bayi tersebut.

Raja Salomo tidak tahu harus mengatakan apa. Sejujurnya dia pun tidak bisa memutuskan, apalagi kedua orang ibu sama-sama bersikeras dan menunjukkan perasaaan sayang yang berapi api.

Ketika dittanya, seberapa besar mereka mencintai sang bayi malng yang menangis ketakutan diperebutkan orang-orang dewasa, tegar mereka menjawab, “Aku rela mati untuk demi anakku”.

Semua orang memandang ke arah singgasana. Untuk pertama kalinya mereka merasakan keraguan di wajah yang agung di atas sana.

Raja Salomo berpikir keras, siapa gerangan ibu yang benar benar mencintai si bayi? Hanya itu jalan keluar dalam persoalan pelik ini.

Maka  Raja Salomo pun berkata, “Demi keadilan, baiklah kita bagi dua saja bayi dengan pedang sehingga tak seorang pun pulang dengan kecewa”.

Seketika ruangan istana jatuh hening. Orang-orang saling memandang.

Akan tetapi, seorang di antara kedua ibu yang berseteru itu spontan mengiyakan. Sementara itu, ibu lainnya menangis penuh kesedihan.

“Sudah sudah, jangan sakiti dia, biarlah ia memiliki bayi itu. Aku rela asal anakku jangan disakiti”.

Dan dia dipapah keluar podium dengan celana pendeknya, menyerahkan Indonesia yang dicintainya kepada mereka yang menuntutnya mundur paksa, demi terhindarnya perang saudara dan perpecahan di antara anak-anak bangsa.

Istilah kerennya: impeachment (2000) dan orang-orang siap saling memerangi.

Siapakah ibu bayi tersebut?

Dia adalah yang tulus mencintai dan tidak ingin mencelakakannya.

(Baca juga: Indonesia bukan Tempat Orang-Orang seperti Ahok)

Siapakah yang sungguh-sungguh mencintai negara ini? Apakah yang berteriak berani mati?

Raja Salomo menggeleng. Dia yang mencintai negara ini adalah dia yang berbahagia jika negara ini bersatu padu dan hidup rukun dalam kemajemukan.

Dia yang mencintai negara ini sudah selesai dengan dirinya sendiri dan menolak ambisi pribadi demi kekuasaan. Dia adalah yang tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Maka Raja Solomo berkata kepada ibu yang merelakan bayinya diambil demi keselamatannnya, “Selamat, kamu adalah ibu yang sesungguhnya. Ambilah bayi itu dan rawatlah dia dengan baik.

Kata-kata Raja Salomo menutup semua kegundahan setiap orang. Dia membiarkan Indonesia dicintai oleh Ibu Pertiwi yang merawat kemajemukan.

(Baca juga: Istimewanya Dakwah Islam Nusantara yang Ramah Budaya Lebih Cocok bagi Generasi Milenial di Indonesia)

Hendaklah kita miliki hikmat seperti Hikmat Salomo, bukan mendengar apa yang terdengar, bukan melihat apa yang terlihat, tetapi merasakan dengan kejernihan hati.

Apabila memiliki cinta untuk bangsa dan negara, buta tidak akan menghalangi seseorang melihat kebenaran.

*Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin mengirimkan tulisan, klik di sini ya

About Katharina Indah Aryanti, Amd.Kep

Katharina Indah Aryanti, Amd.Kep
Perawat RS Panti Rapih Yogyakarta - Penghobi Masak - Akademi Keperawatan Panti Rapih Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean