Home / Headline / Istimewanya Dakwah Islam Nusantara yang Ramah Budaya Lebih Cocok bagi Generasi Milenial di Indonesia
Merenda Istimewanya Jogja
Islam Nusantara sebagai tipologi untuk membangun paradigma Islam yang ramah (Foto: Istimewa)

Istimewanya Dakwah Islam Nusantara yang Ramah Budaya Lebih Cocok bagi Generasi Milenial di Indonesia

Oleh: Ardiyansyah, S.A.g

Jakarta, Aquilajogja.com – Munculnya istilah Islam Nusantara dimulai ketika Mukhtamar Nahdlatul Ulama ke-33, Jombang, Jawa timur, untuk memilih ketua umum PBNU yang baru. Tanggal 6 Agustus, 2015, KH. Said Agil Siradj terpilih kembali menjadi ketua umum PBNU dan KH. Maruf Amin sebagai Rais ‘Aam.

Tipologi Islam Nusantara muncul dikarenakan derasnya arus pemikiran Islam Timur Tengah yang dinilai tidak cocok dengan masyarakat Indonesia.

Islam Nusantara memperkenalkan kembali konsep dakwah yang telah diajarkan Wali Songo (Sembilan Wali)  untuk menyebarkan Islam di Indonesia.

Mengapa terfokus kepada Wali Songo?

Wali Songo mengusung konsep dakwah yang berhasil memadukan antara Islam dan budaya. masyarakat Indonesia, yakni masyarakat yang sangat menghormati budaya, sehingga para wali menggunakan budaya tersebut untuk menyebarkan Islam.

Dengan alunan gamelan, Sunan Bonang berhasil mengislamkan tanah Tuban. Dengan Wayang, Sunan Kalijaga berhasil mengislamkan daerah Demak. Dan pengajaran yang lembut dari Sunan Kudus berhasil mengislamkan daerah Kudus tanpa harus bersitegang dengan agama Hindu dan lokal disana.

Sunan Kudus menghargai budaya setempat. Karena pada waktu itu Kudus masih beragama Hindu, mereka tidak menyembelih sapi. Ketika Idul Adha tiba, Sunan Kudus pun melarang umat Islam menyembelih sapi dan diganti dengan kerbau.

Sama halnya dengan para Wali Songo lainnya yang terus berdakwah dengan kelembutan dan menghargai budaya setempat. Jika ada budaya yang tidak sesuai syariat Islam, maka budaya tersebut diislamkan. Ketika Islam sudah menjadi agama yang dianut oleh masyarakat, nilai-nilai Islam tersebut dibudayakan agar tidak hilang.

Islam memasuki budaya (secara berbudaya), Islam menjadi praktik budaya sekaligus nilai-nilai kebudayaan yang direfleksikan dan dilestarikan.

Islam Nusantara berdakwah dengan memakai berbagai unsur lokal dan mengedepankan perjumpaan antar hati yang mendamba Allah. Gereja Katolik juga menyadari pentingnya lokalitas dengan konsep inkulturasi dan akulturasi sejak KV-2 (Video: Zafari Rahimzod)

Bukti-bukti historis menguatkan hal-hal di atas. Sepanjang sejarah Nusantara juga telah bermunculan kerajaan-kerajaan besar bernafaskan Islam seperti Demak, Samudra Pasai, Goa Talo, Makassar, Banten dan Cirebon.

Kerajaan Islam memang telah lama hilang. Akan tetapi Islam-nya tetap bertahan dan Indonesia tetap menjadi negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.

Konsep Islam Nusantara inilah yang harus diperkenalkan kepada generasi muda, yang memang pemahamannya terhadap dakwah Wali Songo sangat minim. Mereka mudah terkena virus gerakan radikal dari Timur Tengah dan kemudian membawa pemahaman itu ke Indonesia yang akhirnya menimbulkan penolakan atas dakwah.

Islam Nusantara mengedepankan pendekatan tasawuf yang menenun dakwah menjadi istimewa dan ramah dan . Dalam tasawuf, manusia dilihat dari hati. Hati yang mengetahui hanyalah Allah, sehingga dakwah yang dimotivasi kedalaman tasawuf akan mengedepankan husnudzon (berprasangka baik).

Kemudian dalam pendekatan tasawuf, seorang pendakwah harus mendekatkan diri kepada masyarakat agar hati orang yang didakwahi terikat dengan hati pendakwah. Ketika sudah menjalin ikatan, nasehat-nasehat baik mudah diterima. Adapun metode pendekatannya bermacam-macam, seperti Sunan Kalijaga yang menggunakan wayang sebagai alat mempererat batin antara dirinya dan masyarakat.

Kemudian, gerakan tasawuf lebih menghargai budaya lokal dan lebih luwes, karena tasawuf menilai seseorang dengan hati bukan hanya dari luar atau aspek ritualistik agama. Pendekatan ini yang membuat Wali Songo mampu menjadikan Indonesia mayoritas Islam hanya dalam waktu kurang dari 100 tahun.

Jiwa adalah getaran ilahi yang terekspresi dalam pelangi emosi positif. Ia bersumber bukan dari marah-marah, namun dari kelembutan cinta sang Ilahi.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi dan pasang iklan, klik di sini ya

About Ardiyansyah S.Ag.

Ardiyansyah S.Ag.
Kader Ansor Kab. Bekasi – Penulis ‘Islam itu Ramah, Bukan Marah' (Quanta, Elexmedia) dan ‘Islam Berdialog dengan Zaman (Quanta, Elexmedia) - UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean