Home / Headline / Ketika Gojek Driver Jogja Salah Bayar Grab Driver, Rejeki dari Tuhan Memang Selalu Tepat Waktu
Merenda Istimewanya Jogja
Jokowi terkenal sebagai presiden suka menyapa masyarakat dan memberi hadiah sepeda. Mereka yang beruntung biasanya menampakkan wajah sangat gembira seperti Raisa ini (Foto: Istimewa/Ilustrasi)

Ketika Gojek Driver Jogja Salah Bayar Grab Driver, Rejeki dari Tuhan Memang Selalu Tepat Waktu

Oleh: Palti Hatoguan Panjaitan, M.A.P.S.

Jogjakarta, Aquilajogja.com –  Cinta membawa rejeki, kalau tidak pada kita, berarti bagi orang lain. Itulah kisah ‘mengharukan’ saya hari ini.

Di tengah-tengah kesibukan sebagai pendeta, aktivis antariman dan pembicara publik, saya juga seorang Gojek driver. Akan tetapi, hari ini saya adalah seorang penumpang.

Alkisah, kupesan Grab bike dari rumah menuju ke gedung Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogja, untuk mengikuti peluncuran buku “Pelintiran Kebencian”. Pilihan pembayaran adalah dengan bayar tunai seharga Rp 9.000.

Setiba di tempat tujuan, saya bayar dengan uang 10.000 dan langsung mengucapkan terimakasih. Grab driver menyahut, “Kembaliannya, Pak?

Seperti yang saya katakan di atas, saya juga soerang driver. Bagi sebagian orang, uang Rp. 1000 mungkin recehan kecil, tetapi tidak bagi kami yang menjalani profesi yang sangat dibutuhkan banyak orang ini. Kami sangat menghargai berapa pun tips yang diberikan penumpang.

Maka tanpa ragu, bahkan dengan senyum menenangkan, kujawab, “Tidak apa-apa, Pak, terimakasih ya atas pelayanannya yang baik.” sembari berlalu meninggalkannya dan masuk ke gedung Fisipol, UGM.

Sekilas kulihat di wajahnya, beliau tertegun dengan mimik bingung. Saya tersenyum senang karena merasa telah membahagiakan sesama pengemudi transportasi online.

Saya pun bergegas menuju tempat seminar sembari membayangkan wajah driver yang bingung. Dalam hati kubertanya-tanya pada diriku, “Kok sebegitunya beliau padahal hanya sisa seribu rupiah? Kok begitu berharganya uang seribu rupiah?”

Segera pikiran ini menguap karena acara peluncuran buku telah dimulai. Saya benar-benar fokus karena bukunya memang sangat menarik. Hampir 3 jam tidak terasa mendengar bagaimana hoax dan fabrikasi kebenaran palsu bisa menghancurkan bukan saja komunitas, pertemanan, bisnis, tetapi bahkan satu negara pun bisa tenggelam dalam konflik berdarah-darah.

Akhirnya selesai juga acara yang menampilkan dua pembicara asing yang mengalami sendiri bagaimana mereka bertarung dalam konflik bernuansa SARA di negaranya, sebelum keduanya menjadi orang-orang yang paling vokal menentang pembantaian atas dasar hoax, kebencian dan agenda politik itu.

Saya bergegas pulang. Kembali kupesan Grab bike, kali ini dari gedung Fisipol UGM ke toko buku Togamas, Jogja, yang terletak di ujung jalan Gejayan yang menuju arah Kaliurang. Kembali saya memilih bayar tunai seharga Rp.7.000.

‘There can be miracles when you believe, who knows what miracles you can achieve, you will when you believe…’ (Video: whitneyhoustonVEVO)

Buka dompet untuk persiapan bayar ongkos. Kucari uang 10.000 dan berniat tidak akan minta kembalian. Persis seperti tadi lagi. Saya ingin memberi cinta pada sesamaku, pikirku begitu.

Saya memang selalu berusaha memberi uang lebih dari ongkos saat naik ojek online maupun taksi. Sebab saya juga sering menerima uang lebih dari ongkos yang seharusnya saat jadi Gojek driver.

Uang lebih 1.000 sampai 3.000 tidaklah seberapa. Tidaklah membuat saya langsung susah. Lagian tidak salah berbagi malah jika boleh,  selalulah berbagi. Tapi bagi seorang driver, menurut pengalaman saya sendiri sebagai driver, uang lebih itu sesuatu yang istimewa. Menambah penghasilan!

Pas cari uang di dompet, jantungku nyaris copot. Eh rupanya selembar uang 100.000 sudah tidak ada lagi di dompet. Satu-satunya seratus ribuan itu sudah lenyap tak berbekas.

Tersisa hanya selembar uang Rp. 10.000-an dan beberapa uang Rp 5.000-an.

Akhirnya misteri itu terkuak. Rupanya yang saya berikan ke Grab bike tadi itu uang Rp. 100.000-an. Pantas saja dia tertegun dengan wajah bingung (dan mestinya, bahagia). Bayar ongkos Rp. 9.000, kubayar dengan uang Rp. 100.000, dan saat ditanya kembalian sama driver, kubilang tidak apa-apa. Malah saya katakan, terimakasih!

Itulah rejeki anak soleh. Driver dapat tips besar tanpa disengaja. Saya memberi tips besar juga tanpa sengaja. Terjadi karena kelalaian.

(Baca juga: Ketika Tiba di Surabaya Menjadi Jam Keberangkatan dari Stasiun Lempuyangan Jogja)

Rejeki bagi driver Grab bike karena dapat tips besar. Rejeki juga bagi saya, karena dengan kelalaian tersebut, saya pernah memberi tips besar. Ternyata, saya pernah memberi cinta sedasyat letusan Gunung Merapi.

Mungkin jika tidak lalai, saya tidak akan pernah memberi tips sebesar itu.

Semangatku untuk menarik Gojek esok semakin terpacu atas peristiwa ini. Siapa tahu nanti dapat penumpang yang salah bayar. Coba tiga saja yang salah bayar, cukup seminggu dua kali. Wahhh…sudah dapat banyak loh.

Sahabat Aquilajogja.com yang terkasih, rejeki bisa terjadi dengan bermacam cara. Tidak pernah bisa kita duga caranya. Hendaknya jangan pernah menyerah sebab kajaiban mungkin sedang menanti di pengkolan jalan.

Tuhan punya berbagai cara untuk mencukupi kebutuhan kita. Saya yakin ini diajarkan semua agama baik Kristen, Islam, atau lainnya. Seringkali dengan cara-cara yang tak terduga bahkan tak masuk akal. Percaya saja, dan terjadilah.

Salam satu aspal!

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi dan pasang iklan, klik di sini ya

About Palti Hatoguan Panjaitan, M.A.P.S.

Palti Hatoguan Panjaitan, M.A.P.S.
Pendeta - Aktivis Interfaith - Pembicara Publik - Gojek Driver, Yogyakarta - Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean