Home / Headline / Dokter Jogja Berbusana Blankon dan Jarit di Tengah Dinginnya Salju New York
Merenda Istimewanya Jogja
Butiran-butiran salju menempel di jarit, udara sangat dingin dan angin seakan hendak menembus tulang-tulang

Dokter Jogja Berbusana Blankon dan Jarit di Tengah Dinginnya Salju New York

Oleh: DR. dr. F.X. Wikan Indrarto, Sp.A. & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.*

New York, Aquilajogja.com – ‘Saya ingin menjadi bagian darinya, New York New York’, demikian kata Frank Sinatra, penyanyi legendaris sepanjang masa. Sebagian orang juga mengenalnya sebagai pelantun My Way yang telah menjadi klasik.

Saya bersama istri berada di New York dalam rangka mengikuti ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, konggres dokter anak sedunia ke-16, di Hilton New York JFK Airport Hotel.

Sekarang sudah hari ketiga kami berada di jantung ekonomi dunia ini. Jarit dan blankon khas Jawa menemani langkah-langkahku. Saya memang dokter anak, namun terlebih lagi, wong lanang Jogja.

Dan mungkin karena kami menginginkan menjadi bagian di dalam derunya kota, saat turun di stasiun terakhir Subway Line E (WTC), dalam iringan banyak sekali penumpang, ternyata kami terbawa arus masuk ke sebuah bangunan megah yang disebut Oculus.

Blankon dan jarit Jogja ‘terdampar’ di dalam arsitektur istimewa!

Bangunan baru senilai 4 trilyun dolar Amerika ini dirancang arsitek Spanyol, Santiago Calatrava, sebagai penghubung stasiun kereta api bawah tanah, alun-alun, pusat perbelanjaan WTC, dan museum situs peringatan atas serangan teror 11 September 2001.

Oculus tampak megah dan mewah. Berkilau deretan pualam abu-abu dan putih, khusus didatangkan dari Italia. Rusuk-rusuk bangunan terbuat dari baja seputih tulang dan gelas-gelas dinding melengkung merenda sebuah atrium, mengingatkan saya pada kisah Nabi Yunus di dalam perut ikan paus raksasa.

New York New York yang dilantunkan Frank Sinatra telah menjadi bagian dari memori Amerika dan dunia (Video: FrankSinatraVEVO)

Dari luar, imagi manusia ditelan mamalia laut musnah seketika. Sesungguhnya stasiun kereta api penghubung ini adalah seekor burung merpati yang dilepaskan dari tangan seorang anak. Ia adalah simbol kebangkitan paska serangan bom teroris 11 September, 2001.

Dari jarak dekat, Oculus adalah desain arsitektur yang menimbulkan banyak tafsir. Kelengkungannya tampak dinamis dan mengandung ilusi. Dilihat dari sisi tertentu, ia terlihat nyaris transparan, dari sisi lainnya, sama sekali tidak, seakan burung yang sedang mengudara atau membayangi mangsanya.

Oculus menampilan visi yang lebih optimis, bukan atas dasar kondisi-kondisi saat ini namun lebih pada kemungkinan-kemungkinan di masa depan. Kalau dalam dunia film, lebih menyerupai Star Trek, bukan Blade Runner.

Puas menikmati keindahan Oculus dan berfoto dari berbagai sudut, kami memberanikan diri keluar ruangan merasakan hujan salju di akhir musim dingin.

Blankon yang kupakai tidak berfungsi maksimal, cuaca sangat dingin. Saya harus memakai penutup kepala dari wol. Akan tetapi, jarit Jogja cukup kuat menahan gempuran salju dan angin yang menusuk tulang.

Kami melihat WTC baru, sebelumnya kompleks yang terdiri dari tujuh bangunan yang sebagian besar didesain arsitek keturunan Jepang-Amerika, Minuro Yamasaki. Sejenak kepala menunduk mendoakan para korban serangan teroris tersebut.

Salju masih berpusing dalam butiran-butiran kapas menempel di jarit. Angin berkesiur tajam.

Merenda Istimewanya Jogja
Blankon dan jarit Jogja yang selalu menemani petualanganku ke mancanegara

Hari pertama konggres, saya belajar tentang perawatan welas asih yang hanya bila ada empati, diperkuat kontak langsung dengan pasien. Teknologi sekadar melengkapi, bukan menggantikan, hubungan dokter-pasien. Tantangan seorang dokter bukanlah keterampilan profesional, melainkan kompetensi dan hubungan penuh kasih yang menambah kegembiraan pasien.

Sesi kedua membahas penyebab utama infeksi kongenital virus Zika, yang sering terwujud dengan mikrosepali (gangguan saraf yang menyebabkan kepala anak menjadi kecil dan tidak sepenuhnya berkembang). Ini terkait asal mula atau sebab adanya gangguan di sistem saraf.

Berikutnya soal peran terapi kejiwaan dengan layanan pendukung dan intervensi kognitif untuk membantu memperbaiki fungsi anak dengan risiko tinggi gangguan psikotik. Dalam hal ini, peran keluarga sangatlah penting.

Kebencian yang dipelajari di masa kanak-kanak bisa mendorong kekerasan berikutnya. Prosesnya sering dimulai dengan pola asuh otoriter. Rasa takut dan kemarahan yang dialami anak bisa dilampiaskan kepada orang lain kelak.

Cerita moral tentang kebajikan dan penghindaran dari kejahatan akan menghasilkan empati untuk tindakan belas kasih.

Welas kasih, cinta, begitulah yang kutemukan di salju-salju putih yang menerpa jarit yang kupakai. Kupandang sekali lagi Oculus, merpati sekaligus paus, yang menelan saya untuk memuntahkan kembali pada pantai karya, yang menerbangkan saya bagai sang Aquila, Rajawali yang baik hati.

Saya sadar itu,setiap orang dipanggil untuk menjadi ‘rajawali berhati merpati’ demi menyebarkan kebaikan-kebaikan ke seluruh Nusantara.

*Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin menulis atau pasang iklan, klik di sini ya

About Dr. dr. F.X. Wikan Indrarto, Sp.A.

Dr. dr. F.X. Wikan Indrarto, Sp.A.
Spesialias Anak, RS Panti Rapih dan RS Siloam, Yogyakarta - Ketua IDI Cabang Yogyakarta - Pedalis - Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean