Home / Headline / Seruan Doktor LIPI: Balikin Arkade Pengetahuan Kota Jogja!
Merenda Istimewanya Jogja
Sejumlah mahasiswi lintas SARA di Universitas Katolik Sanata Dharma, Jogja, tampak sarapan bersama. Warong Texas 1978, salah satu legenda Jogja, kerap menjadi arena pertukaran cerita, ide dan pengetahuan. (Foto: Rudy Ronald Sianturi)

Seruan Doktor LIPI: Balikin Arkade Pengetahuan Kota Jogja!

Oleh: DR. M. Alie Humaedi

Jakarta, Aquilajogja.com – Jogja, sebuah kota lama bergaya baru. Ia selalu sedang berubah. Lalu lalang orang di masa lalu berubah menjadi hilir mudiknya berbagai moda kendaraan. Sepeda ontel penuh sapa pengendara hilang ditelan aura kesombongan pengendara motor.

Ke istimewanya Jogja, kita ingin balik untuk mencari tiap sudut yang menyapaku bersahabat penuh selaksa makna…

Sayang, menyeberang jalan kini seolah sedang berjuang melawan para ksatria baja hitam. Ujaran penuh emosi sesekali terdengar tanpa basa-basi. Mereka yang kebanyakan mahasiswa itu seperti berburu waktu untuk mencapai tujuan tertentu. Sayangnya, tujuan itu kini lebih banyak ke mall, bioskop, kafe, dan kedai, ketimbang kampus, perpustakaan dan toko buku.

Arkade ilmu pengetahuan kalah dan ditinggal sepi pengunjung justru di kota pendidikan. Hingga larut malam, mereka menghabiskan waktunya untuk sekadar obrol atau bermain kartu berbalut alasan mengerjakan tugas. Sebagian lain, mengadu nasib dalam permainan virtual play station.

Kini, Jogjakarta seakan arena simulacrum, ruang menipu diri dengan berbagai permainan berbaju kota pendidikan. Konon, kota permainan seperti itu tepatnya menjadi tujuan kota pariwisata.

Lirik ‘Yogyakarta’ (KLa Project) yang dilantunkan Katon Bagaskara telah membius jutaan penggemarnya dan membangun imagi indah-kuat tentang Jogja (Video: Lutfi Rauf)

Arena simulacrum telah berbeda dengan Jogja di tahun 1980, 1990, dan 2000-an. Arena kala itu mencipta orang terpelajar yang ulet, tekun, dan futuristik yang dipenuhi sifat kesederhanaan. Mereka yang berada pada nuansa hidup penuh klasik, terus dipenuhi oleh jiwanya yang memberontak. Mereka pun akan membayang tentang kehidupan lebih baik di masa yang akan datang.

Nama-nama besar dengan sifat kesederhanaannya pun hadir, dan berkelana ke pusat-pusat gravitasi peradaban bangsa. Tanpa menjadi pejabat, mereka tetap bereksistensi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kini, tanpa identitas pejabat, orang-orang terpelajar ini tenggelam di buminya sendiri. Defisit cerdik cendikiawan dari kota pendidikan menjadi potret meredupnya kota pendidikan.

Jogja masih dirindu banyak orang, Kampus UGM masih tegar sebagai salah satu ikon kota. Baik setiap gerak ataupun arkade pengetahuannya, masih sangat mungkin dikembalikan ke ruh sejatinya.

Dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi harus mampu mengalahkan pamor dunia pariwisata. Kampus perlu merenda kembali kesejatian dirinya sebagai arena pembelajaran dan pemberadaban. Ia bukan lagi sebagai arena simulacrum permainan penuh hasrat hedonis. Ia juga bukan lagi menjadi markas pembiadaban dengan program cuci otak untuk mencipta kader-kader ideologis tertentu.

Balikin Jogja sebagai kota pendidikan berluhur budi, dan mencipta insan berperadaban tinggi. Sebelum kita di sudut kota bersama musisi jalanan merintih sendiri seiring laraku kehilanganmu ditelan derunya kotamu

Sekadar terhanyut akan nostalgi…

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi dan pasang iklan, klik di sini ya

About DR. M. Alie Humaedi

DR. M. Alie Humaedi
Peneliti Utama Kajian Budaya LIPI, Jakarta - Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta - UIN Suka, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean