Home / Headline / Prinsip Pro-eksistensi dalam Masyarakat Majemuk
Merenda Istimewanya Jogja
Romo Budi dan Habib Lutfi bersahabat baik. Keduanya kadang diundang memberi tausiyah dan sering bermain musik bersama. (Foto: Istimewa)

Prinsip Pro-eksistensi dalam Masyarakat Majemuk

Oleh: Indro Suprobo, S.S., B.Th.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Menjadi bagian dari bangsa Indonesia adalah anugerah besar, karena mendapatkan kesempatan memiliki saudara dalam keragaman dan perbedaan yang sangat kaya. Keragaman masyarakat Indonesia merupakan kenyataan yang tak dapat disangkal dan sangat potensial menjadi sarana untuk mendidik para warganya.

Perjumpaan antar orang dari beragam etnik, agama, adat istiadat, karakter wilayah, cara berpikir, teknik pertanian, sampai selera kuliner, sungguh merupakan sarana pembelajaran yang sangat potensial memperkaya wacana, pengalaman, serta mengasah kebijaksanaan dalam kehidupan.

Seluruh keragaman dan perbedaan itu akan menjadi hal yang memperkaya, jika sungguh-sungguh disikapi secara positip dan dianggap bukan sebagai ancaman. Tentu saja, sikap positip terhadap keragaman dan perbedaan ini perlu diinternalisasi dalam pemikiran dan dilatihkan dalam sikap maupun tindakan nyata.

Sikap positip terhadap keragaman dan perbedaan ini terkandung dalam sebuah prinsip yang disebut sebagai prinsip pro-eksistensi (pro-existence).

Pro-eksistensi adalah prinsip hidup bersama yang memandang orang atau kelompok lain sebagai sesama yang setara dan memiliki martabat yang sama dengan diri atau kelompoknya sendiri, yang terwujud dalam sikap dan tindakan nyata untuk secara damai dan empatik ikut terlibat menjadi bagian dalam usaha menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kelompok lain itu, serta secara adil menjamin dan membela hak-hak kelompok yang berbeda terutama ketika hak asasi kelompok yang berbeda itu sedang terancam.

Dalam pro-eksistensi terkandung nilai dan sikap “damai sejak dalam pikiran”, kesetaraan, inklusi, terlibat, empati, dan pembelaan (advocacy). Dalam prinsip ini, masyarakat yang hidup bersama dalam banyak perbedaan seperti masyarakat Indonesia, secara aktif saling memandang yang lain sebagai sesama yang setara dan bermartabat, serta berupaya saling melindungi agar masing-masing dapat menghidupi keunikannya dalam kedamaian.

Dalam sejarah, prinsip pro-eksistensi ini telah diteladankan baik oleh Yesus maupun oleh nabi Muhammad dalam kehidupan mereka.

Dalam rekaman kitab suci Perjanjian Baru, sangat jelas tergambar dalam kisah Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25-37) dan dalam kisah Orang yang bukan Pengikut Yesus mengusir setan (Lukas 9:49-50 dan Markus 9:38-40).

Dalam kedua kisah di atas, Yesus memberikan teladan tentang bersikap adil dan damai terhadap kelompok lain yang berbeda, serta berani membongkar seluruh stigma dan prasangka terhadap yang lain agar orang secara empatik berani menjadi bagian dari yang lain untuk menyelesaikan masalah atau melindungi kelompok lain dari ancaman.

Ketika memasuki kota Makkah dengan kemenangan, bersama para sahabatnya, Muhammad membersihkan Ka’bah dari semua berhala yang ada. Namun dengan sangat hati-hati, ia mengambil satu gambar dengan gerak isyarat perlindungan.

Setelah semuanya dibersihkan, ia membuka tangannya, memperlihatkan gambar itu kepada para sahabat dan meletakkan kembali gambar itu pada tiang. Itu adalah gambar bayi Yesus dengan Ibu Maria. Gambar ini, pada tiang bagian dalam, merupakan satu-satunya gambar yang masih berada di dalam Ka’bah.

Saat lain, pada tahun 628 M, nabi Muhammad menulis piagam perlakuan khusus bagi para biarawan di Biara Santa Katarina di bukit Sinai, Israel (Kelly James Clark, Anak-Anak Abraham, Kebebasan dan Toleransi di Abad Konflik Agama, Kanisius, 2014). Piagam itu menjamin pemenuhan sejumlah hak asasi manusia, seperti kebebasan beribadah dan bergerak, kebebasan bagi umat Kristen untuk mengangkat hakim mereka dan mengelola kekayaan mereka sendiri, membebaskan mereka dari tugas kemiliteran dan hak untuk mendapatkan perlindungan dalam peperangan.

Salah satu cuplikan kalimat dari piagam itu berbunyi demikian “….Sesungguhnya saya, para abdi, para penolong dan para pengikut saya membela mereka, karena umat Kristen adalah warga saya; dan demi Allah! Saya bertahan melawan apapun yang menyusahkan mereka…..”.

Semoga teladan Yesus dan nabi Muhammad tentang prinsip pro-eksistensi ini sungguh-sungguh menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk membangun hidup bersama secara damai dan penuh hormat dalam perbedaan.

Editor: Rudy Ronald Sinturi

Ingin berkontribusi dan pasang iklan, klik di sini ya

About Indro Suprobo, S.S., B.Th.

Indro Suprobo, S.S., B.Th.
Penulis, Penerjemah dan Editor belasan buku seperti Anak-Anak Abraham serta Kebebasan dan Toleransi di Abad Konflik Agama - Teologi & Filsafat Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean