Home / Headline / Ketika Agama Kristen Dihina, Dengar Jawaban Pastor Semarang Ini
Merenda Istimewanya Jogja
Lukisan tangan seorang anak autis di bawah asuhan Susi Rio Panjaitan, M.Psi. Anak ini melihat dunia begitu cerah, berwarna-warni dan dipenuhi sukacita Allah. (Foto: Susi Rio Panjaitan)

Ketika Agama Kristen Dihina, Dengar Jawaban Pastor Semarang Ini

Oleh: Romo Maryono, S.J.

Semarang, Aquilajogja.com – Namanya Om Arief Prihantoro dan dia sahabat saya. Saya hanya heran, mengapa ia bernafsu sekali ‘menghina’ agama saya. Saking seringnya mencemooh saya, dia sekarang stress karena tidak punya bahan hinaan lagi.

Di abad-abad lalu, ketika agama kami menjadi mayoritas, kami juga sering menghina agama lain. Mereka yang bukan Kristen, kami sebut kafir. Kelakuan kami persis orang Yahudi di jaman itu yang juga sering menyebut bangsa-bangsa bukan Yahudi sebagai kafir.

Bahkan gereja sempat punya semboyan “Extra Ecclesiam nulla salus” (di luar gereja tidak ada keselamatan). Nah… sombong nian, kan?

Berdasarkan pengalaman itu, saya diajak merenung, Jangan-jangan tiap agama perlu jatuh ke dalam lubang (sejarah) yang sama.

Sekarang saya dihina oleh sahabat, maka saya tidak perlu membalas hinaannya karena dulu dalam sejarah kami lebih sering menghina. Bukan karena saya ini berpikiran “ngundhuh wohing pakarti“, memetik hasil perbuatan masa lalu, tetapi karena muncul suatu kesadaran.

Saya pikir Tuhan mau menyelamatkan semua orang, termasuk Om Arief yang Muslim itu. Tuhan mau menyelamatkan manusia lewat bahasa dan budaya masing-masing. Maka Tuhan menyapa beliau dengan bahasa Arab.

Di saat yang sama, Tuhan sedang menyelamatkan saya dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa atau bahasa Inggris atau bahasa Mandarin atau bahasa Tetun.

Dulu, orang-orang Kristen pernah mengalami bahwa Tuhan menyelamatkan manusia dalam bahasa Latin – dan Latin saja. Tetapi, selama ibadat yang dilakukan dalam bahasa Latin tersebut, para jemaat ternyata berdoa sendiri-sendiri dalam bahasa daerahnya masing-masing.

Romonya sibuk dengan bahasa Latin, umatnya “ndoga” cara Jawa. Akhirnya Tuhan mengalah. Biarlah manusia mengalami keselamatan dalam budaya dan dengan bahasa masing-masing.

Merenda Istimewanya Jogja
Kata “Ai” (cinta) bila diputar 90 derajat menjadi “Shen” (Tuhan). Tuhan adalah cinta.

Kalau dulu agama kami kisruh pada abad ke-14 hingga terjadi perpecahan di dalam gereja, jangan-jangan saat ini Om Arief sedang mengalami abad gelap seperti itu. Ingat Om, kami lahir 7 abad sebelum Islam. Jadi kira-kira, sekarang ini abad ke-14 bagi Om Arief dan kawan-kawan.

Cuma, kami mau bercermin pada pengalaman masa lalu. Om Arief punya cermin? Kalau tak punya, saya pinjami. Cermin sejarah kami banyak buramnya, lho. Ya, kami sempat juga mengglorifikasi sejarah kami sebelum akhirnya tahu diri.

Dan seperti yang saya bilang di atas, jangan-jangan setiap agama memang perlu jatuh ke lubang yang sama supaya memiliki cermin buram serupa sehingga kita bisa saling meminjam. Dan setelahnya, tahu diri.

Tetapi Om Arief, ternyata di antara kami ada juga yang galak. Orang-orang menyebutnya “sumbu pendek”. Mereka seperti tersengat kalajengking ketika ulama Kristen diledek. Hatinya bergemuruh seperti air mendidih.

Ternyata, di tempat saya pun ada yang fanatik, fundamentalis, puritan. Maaf ya, om Arief.

Agama memang membuat orang buta. Spiritualitas membuat orang matanya terbuka, kata teolog-ilmuwan, Romo Teilhard de Chardin. Orang yang marah kalau agamanya dihina, pastilah itu orang yang beragama. Tetapi, bagi orang yang tekun mengolah hidup rohaninya, ejekan itu tidak akan menggoncangkan emosinya.

Nah, orang-orang yang sering ribut, meskipun mereka orang beragama, pasti tidak pernah mengolah spiritualitasnya. Batinnya kosong melompong. Di batinnya tidak ada cinta, yang ada cuma kebencian dan iri hati.

Padahal, kata “Ai” (cinta) bila diputar 90 derajat menjadi “Shen” (Tuhan).

Tuhan adalah Cinta.

Editor: Rudy Ronald Sinturi

Catatan Redaksi:
Romo Maryono, S.J. dan Arief Prihantoro bersahabat  baik. Keduanya kerap bertukar kelakar dan ‘ejekan’ di media sosial dalam rangka pencerdasan publik. Tulisan di atas berada dalam bingkai ini.

Ingin berkontribusi dan pasang iklan, klik di sini ya

About Romo Maryono, S.J.

Romo Maryono, S.J.
Pastor Paroki St. Yusup, Semarang - Teologi & Filsafat Wedabhakti Kentungan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

2 comments

  1. Keren….
    Cara nulisnya keren….
    Tulisan lainnya saya tunggu…

  2. Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

    Terima kasih, mas Parjokarto, kiranya berfaedah, nggih. Salam damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean